Kemenangan Prancis adalah Kemenangan Kebinekaan, Sangat Indah

Skuat Prancis berpawai di Champs Elysees, Paris, Senin (16/7/2018) waktu setempat untuk merayakan kemenangan di Piala Dunia 2018. - Reuters/Charles Platiau
17 Juli 2018 16:40 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bintang Prancis di Piala Dunia 2018, Antoine Griezmann, menganggap keberhasilan Les Bleus meraih trofi di Rusia adalah kemenangan keberagaman. Prancis yang dihuni pemain dari berbagai budaya dan etnis mampu bermain padu dan menjadi juara setelah mengalahkan Kroasia 4-2 pada final di Stadion Luzhniki, Moskwa, Rusia, Minggu (15/7/2018).

“Inilah Prancis yang kami cintai. Pemain berasal dari latar belakang berbeda, tetapi kami mampu bersatu. Ada banyak pemain yang datang dari berbagai lingkungan, tetapi kami punya tujuan yang sama. Kami bermain untuk seragam yang sama, untuk Ayam Jantan [julukan kesebelasan Prancis], untuk negara kami. Begitu kami memakai seragam ini, kami memikul beban yang sama dan saling melengkapi. Ini sangat indah,” ujar Griezmann, pemain berdarah Jerman dan Portugal, sebagaimana dilansir The Guardian, Senin (16/7/2018).

Griezmann mencetak empat gol sepanjang turnamen di Rusia. Salah satu golnya dilesakkan di laga final. Dia merupakan speasialis penalti Prancis. Dari enam kesempatan tendangan penalti yang dia emban saat Les Bleus berlaga di turnamen besar, tak sekali pun gagal diselesaikannya.

“Saya mencoba untuk tetap tenang saat menendang penalti. Ini soal mental. Saya suka pertandingan seperti ini karena taruhannya besar: menang atau Anda tersingkir. Situasi ini memberi saya kepercayaan diri sangat tinggi dan saya gembira karena bisa memanfaatkannya dengan baik,” kata dia di fifa.com.

Selain menyumbang empat gol, Griezmann juga berperan besar dalam gol Samuel Umtiti ke gawang Belgia di semifinal dan gol Raphael Varane ke gawang Uruguay perempat final. Dua gol itu berawal dari sepakan bebas striker Atletico Madrid tersebut.

Keberagaman menjadi isu besar di Prancis dan Eropa belakangan ini. Prancis, bersama Belgia dan Inggris, diperkuat banyak imigran. Sementara, Eropa yang selama puluhan tahun menjadi kawasan yang terbuka untuk semua pendatang, mulai mengambil jarak terhadap mereka yang asing. Banyak kelompok sayap kanan di Eropa yang menginginkan pembatasan terhadap imigran. 

Di Prancis, kelompok konservatif sayap kanan yang suaranya tertampung di National Front pimpinan Marine Le Pen juga kuat. Stereotip terhadap imigran, yang biasanya berasal dari Afrika dan Timur Tengah, juga mengencang. Sejak milenium baru, Prancis diguncang setidaknya empat kerusuhan etnis, yakni di Paris (2005), Perpignan (2005), Avignon (2009), dan Ajaccio (2015).