Alasan Piala Dunia 2018 Layak Dikenang: VAR, Suporter, & Mbappe

Kylian Mbappe - Reuters/Dylan Martinez
16 Juli 2018 16:45 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Presiden FIFA Gianni Infantino memuji Rusia 2018 sebagai Piala Dunia terbaik yang pernah digelar. Pendapat yang diutarakan dalam konferensi pers sehari sebelum turnamen empat tahunan tutup kelir itu tak disertai indikator-indikator yang bisa memperkuat argumennya. Namun, beberapa peristiwa dalam sebulan terakhir di Kaliningrad, Kazan, Moskwa, Nizhny Novgorod, Rostov-on-Don, Saint Petersburg, Samara, Saransk, Sochi, Volgograd, dan Yekaterinburg, bisa mendukung klaim Infantino.

Rusia 2018 dipenuhi gol-gol di pengujung laga sehingga kesan dramatis sangat kuat. Partai perdana berjalan berat sebelah ketika tuan rumah menggasak Arab Saudi 5-0 di Moskwa. Namun, pertandingan kedua di Sochi langsung menyuguhkan kejar-kejaran gol yang menarik. Spanyol dan Portugal berbagi gol 3-3 dan Cristiano Ronaldo menjadi protagonis, mencetak hattrick sekaligus menyelamatkan Selecao das Quinas dari kekalahan berkat gol sepakan bebas di menit 88. Bola tendangannya melengkung dan melesak di sudut gawang David de Gea yang hanya terpaku. 

Di pertandingan lain, Harry Kane mencetak gol di menit 91 ke gawang Tunisia sehingga Inggris menang 1-1. Inggris kemudian menjadi korban gol menit terakhir. Sundulan bek Kolombia Yerry Mina pada menit 93 memaksa The Three Lions melalui babak perpanjangan waktu sebelum menang adu penalti. 

Toni Kroos juga berhasil melepas ketegangan fans Jerman di laga kedua. Gol sepakan bebasnya di menit pamungkas membawa Die Mannschaft, yang kemudian mengakhiri Piala Dunia dengan aib besar, menang 2-1 atas Swedia. 

Gol menit terakhir paling mengesankan dicetak Nacer Chadli. Dia masuk dari bangku cadangan saat Belgia tertinggal 0-2 dari Jepang. Kemudian, Rode Duivels menyamakan kedudukan lewat Jan Vertonghen dan Marouane Fellaini sebelum Chadli membawa Belgia melaju ke perempat final lewat sontekannya beberapa detik menjelang peluit panjang ditiup.

Inovasi Baru

Piala Dunia juga menandai inovasi baru sehingga sepak bola bisa berjalan lebih adil. Video assistant referee (VAR) sudah diperkenalkan di Piala Konfederasi 2017, tetapi baru benar-benar menyita perhatian dan mengubah hasil akhir dalam beberapa laga Piala Dunia 2018. VAR sebagai bagian dari perangkat pertandingan mengubah banyak hal dan sebagaimana lazimnya hal baru, ada saja yang keberatan dan berkomentar miring.

“Saya merasa kalah bukan oleh tim yang lebih baik, tetapi oleh teknologi,” ujar kiper Australia Mat Ryan, 16 Juni lalu, sebagaimana dilansir Sky Sports.

Ryan kecewa setelah Australia yang mengendalikan permainan dan tampil lebih apik kalah 1-2 dari Prancis. Wasit Andres Cunha mengesahkan gol Paul Pogba, yang belakangan dikategorikan sebagai gol bunuh diri Azis Behich, setelah mengevaluasi rekaman yang diperlihatkan VAR. Bola sepakan Pogba yang mengenai kaki Behich sepintas lalu belum melewati garis gawang. Namun, berkat goal line technology dan rekaman VAR, kita tahu bola sudah masuk. Ryan boleh saja protes, tetapi teknologi memberi keadilan.

VAR kemudian mengambil peran yang sangat banyak di laga Portugal melawan Iran. Ketika Ronaldo dijatuhkan Morteza Pouraliganji, wasit Enrique Caceres sempat sangsi. Dia kemudian melihat VAR dan memberikan hadiah penalti kepada Portugal. Ronaldo gagal menjadi eksekutor penalti dan di pengujung laga gantian Portugal yang dihukum tendangan penalti, setelah Caceres melihat VAR dan mengetahui Cedric Soares menyentuh bola dengan tangan di kotak terlarang. Giliran Karim Ansharifard yang sukses menjebol gawang Rui Patricio.

VAR juga mencegah kecurangan. Ketika Neymar pura-pura jatuh saat Brasil kesusahan menembus lini pertahanan Kosta Rika, Brasil sempat dihadiahi penalti. Namun, wasit Bjorn Kuipers menganulirnya setelah melihat VAR dan menghukum Neymar dengan kartu kuning untuk kebohongannya.

Kelemahan sistem baru ini bukan terletak pada VAR dan rekamannya yang bisa membuat wasit lebih tepat mengambil keputusan, melainkan pada keputusan wasit untuk melihat VAR atau tidak. Federasi Sepak Bola Brasil berang dan melayangkan protes ke FIFA karena gol Steven Zuber dianggap sah sehingga Selecao bermain seri 1-1 melawan Swiss. Padahal, dari rekaman ulang, terlihat jelas Zuber mendorong Thiago Silva sebelum menyundul bola dan mencetak gol. 

Mesir juga mengajukan komplain lantaran wasit Caceres (yang kemudian berkali-kali memakai VAR saat memimpin laga Portugal melawan Iran) tak melihat VAR saat Mohamed Salah dijatuhkan pemain Rusia. Dalam pertandingan itu, Mesir kalah 1-3 dan terpaksa angkat koper lebih awal.

Sejarah

Rusia bukan tempat yang bersahabat bagi tim unggulan. Juara bertahan Jerman yang bermain sangat buruk di laga terakhir fase penyisihan melawan Korea tersingkir secara memalukan. “Kami bertanggung jawab karena semua tim sangat kacau,” ujar Manuel Neuer.

Kolapsnya Jerman menjadi kejutan terbesar di Rusia karena Die Mannschaft diperkuat pemain bagus dan punya rekam jejak oke di semua turnamen besar sehingga dijuluki turnemierschaft, tim spesialis turnamen. Nasib mengenaskan Jerman kemudian diikuti juara dunia 2010, Spanyol, yang dikalahkan Rusia di 16 besar dan finalis Piala Dunia 2014, Argentina, yang dipulangkan Prancis. Brasil dan Neymar, yang menjadi unggulan kedua setelah Jerman, kemudian menyusul gara-gara kalah 1-2 dari Belgia.

Di sisi lain, Kroasia yang ngos-ngosan di Kualifikasi Piala Dunia 2018 Zona Eropa malah tampil apik. Pertama dengan mengalahkan Argentina 3-0 di penyisihan grup dan selanjutnya tampil spartan serta tak kenal lelah di fase gugur. Kroasia, adalah tim penghuni peringkat FIFA terendah yang masuk final Piala Dunia. Sebelum Rusia 2018 dimulai, Vatreni ada di anak tangga ke-20.

Di Rusia, rekor juga dipecahkan. Essam El-Hadary menjadi pemain tertua yang pernah tampil di Piala Dunia. Saat mengawal gawang Mesir pada partai terakhir menghadapi Arab Saudi, usianya 45 tahun. El-Hadary memecahkan rekor kiper Kolombia Faryd Mandragon yang tampil melawan Jepang pada Piala Dunia 2014. Rekor El-Hadary semakin bermakna karena dia menggagalkan sepakan penalti Fahad Al-Muwallad, meski akhirnya Mesir takluk 1-2.

Rusia 2018 juga memberi kesempatan kepada tim butut untuk memperlihatkan wajah buruk. Iran berhasil mencatat kemenangan pertama sejak keberhasilan mengalahkan Amerika Serikat 2-1 di Prancis 1998 dengan cara yang sangat jelek.

Iran menang berkat gol bunuh diri bek Maroko Aziz Bouhaddouz di menit ke 95, padahal tim dari Asia Tengah itu sama sekali tak mencatat tembakan ke gawang Maroko di babak kedua. Kegembiraan kecil pun lahir di Rusia. Meski kalah telak 1-6 dari Inggris, Panama tetap bersuka cita karena striker mereka Felipe Baloy menjadi pencetak gol pertama untuk negerinya di Piala Dunia.

Suporter yang Mengesankan

Sebelum Piala Dunia 2018 dimulai, kekhawatiran menyeruak lantaran ancaman berandalan Rusia terhadap suporter Inggris lewat dunia maya. Rasa waswas itu didasari insiden dua tahun lalu di Marseille, Prancis. Suporter Inggris dihajar habis-habisan oleh suporter Rusia. Panasnya hubungan diplomatik Inggris dan Rusia makin menambah kecurigaan terhadap tuan rumah. Namun, tak ada insiden selama Piala Dunia 2018 berlangsung. Suporter justru memberi inspirasi bagi dunia.

Pendukung Jepang dan Senegal membersihkan tribune stadion selepas pertandingan.

Jepang benar-benar memikat banyak orang. Mereka tampil tak kenal takut meski harus kalah 2-3 dari Belgia di 16 besar dan para pemain Samurai Biru bersikap sangat terpuji.

Meski gagal menang setelah unggul 2-0, skuat Jepang menyempatkan waktu membersihkan ruang ganti yang mereka tempati di Rostov Arena. Ruangan tersebut pun bersih seperti sebelum mereka pakai.

Skuat Samurai Biru lantas membubuhkan kata-kata berbahasa Rusia, Spasiba, yang berarti terima kasih. Kebersihan sudah menjadi kultur dalam kehidupan sosial masyarakat Negeri Sakura.

Empat tahun lalu di Brasil, suporter Jepang menjadi tajuk utama di beberapa media lantaran. Entah kesebelasan Blue Samurai kalah, imbang, atau menang, para pendukung selalu memungut sampah dan membersihkan kotoran yang berserakan di tribune.

“Ini bukan hanya budaya sepak bola Jepang, tetapi budaya masyarakat Jepang secara keseluruhan,” ujar jurnalis yang punya segudang pengalaman meliput sepak bola di Jepang, Scott McIntyre kepada BBC.

Scott pergi ke Rusia untuk mengover pertandingan Samurai Biru dan tak terkejut dengan kedisiplinan orang-orang dari Negeri Sakura.

“Sepak bola adalah cermin dari kebudayaan dan aspek terpenting dari masyarakat Jepang adalah memastikan semuanya bersih.”

Menurut dia, kebiasaan hidup bersih itu sudah ditanamkan sejak anak-anak. Di Jepang, jika ada orang luar negeri yang meninggalkan botol bekas minuman atau bungkus makanan di stadion, penonton lokal bakal langsung menegurnya.

“Orang Jepang akan menepuk pundak si pembuang sampah dan mengatakan mereka harus membawa sampah itu ke rumah atau membuangnya ke tempat sampah, yang penting tidak meninggalkannya di stadion,” ucap Scott.

Para pemain muda di Jepang juga dididik hidup bersih. “Di sekolah, perilaku dasar yang terus diajarkan adalah bersih-bersih setelah pertandingan. Perilaku itu kemudian menjadi kebiasaan di seluruh masyarakat.”

Lahirnya Bintang

Rusia menandai perkenalan Kylian Mbappe kepada dunia. Dua sudah angkat nama dua tahun lalu bersama Monaco, kemudian pindah ke PSG dan bakatnya agak tersendat. Bersama Les Bleus, Mbappe unjuk kemampuan sebagai calon penguasa baru sepak bola.

Kehebatan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo kurang afdal karena keduanya belum pernah menjadi juara dunia. Mbappe, dalam usia 19 tahun, sudah merasakan status sebagai kampiun. 

Dia tak cuma numpang tenar seperti Ronaldo yang menjadi juara dunia pada usia 17 tahun bersama Brasil di Amerika Serikat 1994. Mbappe berperan sangat penting dalam kesuksesan Prancis, sebagaimana sumbangsih Pele terhadap kesuksesan Brasil di Swedia 1958.

Dua golnya ke gawang Argentina dan satu gol di partai puncak menegaskan status Mbappe sebagai bintang dan calon legenda.

Ad Tokopedia