Mereka Bersinar di Piala Dunia 2018 Berkat Para Imigran

N'golo Kante, Paul Pogba, dan Kylian Mbappe, menjadi andalan Les Bleus di Rusia 2018. - Reuters/Lee Smith
14 Juli 2018 12:30 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJAPada 1990, Roger Lukaku meninggalkan AS Vita Club, kesebelasan di Kinshasa, Zaire, untuk bermain di Africa Sports d’Abdidjan, klub top di Pantai Gading. Tiga tahun kemudian, Roger yang baru berumur 23 tahun pergi lebih jauh ke Eropa, bergabung dengan Boom FC, klub Divisi III Belgia, berkat bantuan pamannya.

Sementara, negerinya diguncang perubahan politik. Mobutu Sese Seko, bekas serdadu yang menjadi diktator Zaire sejak 1965 memulai reformasi ekonomi dan politik menyusul hilangnya pengaruh Barat di Afrika Tengah. Perubahan yang digulirkan Seko membawa Zaire ke jurang malapetaka. Setelah Seko melonggarkan cengkeraman kekuasaannya, oposisi mulai memberontak.

1993, Zaire diamuk perang saudara berkepanjangan hingga negara itu berubah nama menjadi Republik Demokratik Kongo pada Mei 1997, bulan ketika Seko kabur ke Togo dan menjadi eksil di Maroko hingga meninggal dunia empat bulan kemudian.

Belgia adalah negeri yang karib bagi keluarga Lukaku dan banyak orang Kongo. Di tengah-tengah arus kolonialisme, Belgia, sebuah negara kecil di Eropa Barat, kebagian memerintah Kongo hingga 1958. Banyak orang Kongo yang bermigrasi ke Belgia untuk mencari hidup yang lebih mapan dan sejahtera.

Roger Lukaku mujur karena lepas dari kecamuk perang sipil di tanah kelahirannya. Tetapi, dia punya pertempuran lain sebagai sepak bola berkualitas semenjana di perantauan. Roger berpindah-pindah klub divisi bawah di Liga Belgia. Anak pertamanya lahir di Antwerp pada 13 Mei 1993. Roger memberi nama Romelu. Kelak, Romelu menjadi representasi dari dua wajah Eropa pascakolonial: sanjungan sekaligus hujatan yang selalu dikaitkan dengan asal usulnya.

“Ketika saya bermain bagus, koran-koran menyebut saya sebagai Romelu Lukaku, striker Belgia. Ketika saya bermain jelek, mereka menyebut saya Romelu Lukaku, striker Belgia keturunan Kongo. Jika Anda tak suka permainan saya, tak masalah. Tetapi saya lahir di sini. Saya tumbuh di Antwerp, dan Liege, dan Brussels. Saya adalah orang Belgia,” ucap Romelu Lukaku dalam esai yang dia tulis di The Players Tribune.

Lukaku dan banyak pemain lain yang membela Belgia di Piala Dunia 2018 adalah produk pascakolonial. Dan semifinal Rusia 2018 adalah perayaan yang sangat mencolok dari sisa-sisa keyakinan politik yang dianut banyak negara Barat pada abad ke-19 tersebut.

Multiras

Tiga dari empat semifinalis adalah kesebelasan mulitikultur dan multiras yang besar berkat imigran beserta keturunan mereka. Tujuh dari 23 pemain Rode Duivels dilahirkan keluarga yang berakar dari bekas koloni Belgia: Kongo, Aljazair, Martinik, hingga Mali. Wakil kapten Belgia, Vincent Kompany, adalah anak dari mantan diplomat Kongo.

Ini adalah warisan kolonialisme dan berkembangnya keragaman di Eropa. Menurut data Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), 12,1% penduduk Belgia adalah imigran atau berasal dari keluarga imigran. Ini sangat berpengaruh membentuk corak Tim Nasional Belgia. Nyaris separuh, tepatnya 47,8% pemain Rode Duivels punya akar imigran.

Dari semua kontestan Rusia 2018, Prancis adalah negara yang sangat berutang terhadap keberadaan imigran. Sebanyak 78,3% penggawa Les Bleus lahir bukan dari keluarga yang mengalami Revolusi 1789 yang menjadi benih-benih demokrasi yang dianut sebagian besar penduduk Bumi dewasa ini.

Khaled A. Beydoun, Associate Law Professor di University of Detroit Mercy School of Law menyatakan Prancis adalah tim “Afrika” terakhir yang masih bertahan di Rusia hingga pengujung turnamen. Dia menguraikan peran imigran dalam keberhasilan Prancis menjuarai Piala Dunia 20 tahun lalu dan membandingkan pemain keturunan Aljazair, Zinedine Zidane, dengan remaja peranakan Kamerun dan Aljazair, Kylian Mbappe, sebagai elemen terpenting dalam kecemerlangan bendera biru putih merah milik Prancis. Sejak 1982, baru kali ini tak ada tim Afrika yang mampu lolos dari fase grup. Namun, Prancis yang dialiri darah Afrika masih menatap trofi Piala Dunia 2018 dengan mata berbinar-binar.

Prancis, negara yang kini sedang menimbang ulang identitas nasional mereka dan mulai dijangkiti xenophobia, menggantungkan harapan di pundak para pemain bernama belakang Mbappe, Dembele, Fakir, Rami, Umtiti, Rami, Kimpembe, Pogba, Kante, Mandanda, Sidebe, Nzonzi, Matuidi.

Lawan Prancis di laga puncak, Kroasia, sepintas lalu bukan tim imigran karena semua pemainnya berkulit putih. Negara kecil di Balkan yang dihuni empat juta orang itu diperkuat pemain-pemain impor. Menurut data CIES Football, 15,4% pemain Vatreni di Piala Dunia 2018 lahir di Kroasia, salah satunya adalah pemain paling berpengaruh di lini tengah yang lahir di Swiss, Ivan Rakitic.

Inggris juga punya identitas yang sangat beragam. The Three Lions kandas di semifinal, tetapi punya prospek cerah di Qatar 2022 karena dua alasan. Rata-rata usia para pemain 26 tahun, salah satu yang termuda di Rusia 2018 selain Nigeria, dan mereka bermain dengan sabar dan lebih banyak mengoper.

“Kami adalah tim yang beragam dan muda yang merepresentasikan Inggris era modern. Kami mewakili identitas modern,” ujar pelatih Inggris Gareth Southgate.

Identitas modern itu didefinisikan sebagai jati diri yang terbuka terhadap segala kemungkinan, tak pernah tunggal, selalu berubah, dan mengabaikan perbedaan warna kulit maupun latar belakang pemain.

Inggris mampu menapak semifinal pertama sejak Italia 1990 karena peluh dan kerja keras pemuda yang lahir dan dibesarkan dari keluarga imigran, kebanyakan dari Karibia: Kyle Walker, Ashley Young, Raheem Sterling, dan Jesse Lingard. Mereka adalah bagian dari 9,2% populasi Inggris yang baru menghuni negara tersebut sejak abad ke-19.

“Sebagai pesepak bola, tentu kamu akan dinilai di lapangan, dinilai menggunakan hasil akhir yang tertera di papan skor. Namun, kami juga punya kesempatan untuk mengubah situasi agar lebih baik.”

Problem Eropa

Tanpa otot dan keahlian mengolah kaki, imigran yang tak dibekali pendidikan tinggi hanya punya kesempatan kecil untuk hidup sejahtera. Ini menjadi masalah di Eropa. Generasi pertama para imigran datang ke Eropa di awal abad ke-20 dan generasi kedua adalah mereka yang tiba kurang dari 10 tahun terakhir. Menurut laporan OECD yang dinukil Leonid Bershidsky, kolumnis ekonomi politik di Bloomberg, imigran generasi pertama sukar mendapat pekerjaan dan situasi itu tak lebih baik di kalangan imigran generasi belakangan. Mayoritas anak muda dengan pendidikan rendah di Belgia, Prancis, dan Inggris, berasal dari keluarga imigran generasi kedua.

Di tiga negara, pekerja yang orang tuanya lahir di negara non Uni Eropa lebih susah mendapat pekerjaan yang dengan pendapatan tinggi dibandingkan dengan pekerja yang orang tuanya lahir di negara Uni Eropa. Penghasilan mereka cenderung rendah, kantong mereka cenderung tipis, dan pintu menuju kekerasan dan kriminalitas akhirnya terbuka lebih lebar. Sepak bola menjadi jalan keluar dari nasib buruk.

Patrick Vieira, gelandang yang memenangi Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 bersama Prancis, dalam kolomnya di The Times, menuturkan kultur kekerasan yang sangat mencolok di kawasan miskin Paris yang dihuni banyak imigran generasi kedua.

“Ketika saya berlatih, saya membawa pisau untuk berjaga-jaga. Lingkungan yang buruk memacu saya untuk bekerja keras. Banyak tetangga saya yang menganggur dan tidak mendapat bantuan. Anda akan melihat determinasi itu dari para pesepak bola yang tumbuh di lingkungan keras,” ucap Vieira.

Sepak bola adalah secuil sumbangsih Afrika untuk Prancis. Dalam lanskap kehidupan yang lebih luas, Prancis diyakini tak bakal bernapas panjang tanpa Afrika di urat nadinya. Gregory Pierrot, dosen literatur Afrika dan Amerika di University of Connecticut, menegaskan pendapat tersebut.

“Prancis berutang segalanya terhadap Afrika. Bukan hanya sumber daya yang terus dijarah, bukan hanya tenaga kerja yang dieksploitasi, bukan hanya seni yang didaku selama berabad-abad. Prancis berutang segenap jiwa Afrika.”