Piala Dunia dan Kebangkitan Nike atas Adidas

Gerai jersey Nike laris selama Piala Dunia 2018. - Reuters
06 Juli 2018 13:25 WIB Kaled Hasby Ashshidiqy Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Piala Dunia bukan hanya ajang pertarungan tim-tim sepak bola terbaik dari lima benua untuk berebut titel juara. Turnamen empat tahunan ini juga menjadi medan rivalitas klasik dua merek apparel olahraga ternama dunia, Adidas dan Nike.

Kedua produsen pakaian dan perlengkapan olahraga ini sudah lama bersaing untuk menjadi nomor wahid. Selama ini Adidas masih lebih unggul dibandingkan Nike. Merek berlogo setrip tiga serta tanda centang nan legendaris menjadi sponsor kebanyakan tim yang bertarung di Piala Dunia 2018. Produsen asal Amerika Serikat, Nike, menjadi penyedia jersey empat tim yang sukses lolos ke perempat final, yakni Brasil, Prancis, Inggris, dan Kroasia. Tiga tim yang disebut pertama masuk deretan favorit juara.

Sementara, hanya tiga tim yang jersey-nya dipasok produsen asal Jerman lolos ke delapan besar, yakni Belgia, Rusia, dan Swedia. Ketiganya hanya berstatus kuda hitam. Sementara satu tim tersisa di perempat final, yaitu Uruguay, memakai jersey yang dibuat Puma, saingan Adidas asal Jerman.

Kesuksesanm= tim-tim yang disponsori Nike di Rusia menandai kesuksesan perusahaan ini dalam menaikkan penjualan produk menjadi US$2 miliar (Rp28,7 triliun) pada tahun fiskal 2018. “Sedangkan Adidas dominan di liga-liga Eropa dan liga profesional Amerika Serikat. Nike mengambil pangsa pasar di olahraga nontradisional di Amerika Serikat,” kata Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management di Tusla, Oklahoma, Amerika Serikat, seperti dilansir Reuters, Rabu (4/6).

Perusahaan apparel olahraga menjual suvenir Piala Dunia untuk meningkatkan pendapatan. Namun kesuksesan tim yang disponsori memberi dampak yang lebih signifikan dalam mendorong penjualan, terlebih kesuksesan tim itu tak diduga sebelumnya.

Untuk Piala Dunia kali ini, Nike lebih unggul ketimbang Adidas dalam jumlah tim yang lolos ke perempat final. Padahal, Adidas mensponsori 12 dari 32 tim peserta Piala Dunia, sementara Nike 10. Hasil di perdelapan final lalu jauh di luar ekspektasi Adidas yang mensponsori tim-tim favorit juara, termasuk sang juara bertahan Jerman, Spanyol, serta Argentina. Tersingkirnya ketiga tim elite itu menjadi bencana bagi perusahaan yang didirikan Adolf “Adi” Dassler tersebut. Saham Adidas anjlok 2,7 persen setelahnya.

Pada 2014, penjualan jersey Timnas Jerman menyumbang sepertiga dari total penjualan sembilan juta jersey timnas buatan Adidas. Analis dari Wedbush, Christopher Svezia, menyebut kesuksesan Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 jadi faktor utama meningkatnya angka penjualan Adidas.

Kini, melihat konstelasi yang terjadi, sangat mungkin dominasi Adidas atas Nike terhenti. Banyak yang memprediksi Prancis (Nike) bakal bersua Brasil (Nike) dan Inggris (Nike) melawan Kroasia (Nike) di semifinal final. Itu artinya bakal terjadi all Nike sponsored teams final.

Sejak kick off Piala Dunia pada 14 Juni lalu, saham Nike naik tiga persen, sangat tertolong dengan kesuksesan empat tim yang mereka sponsori tembus ke perempat final. Sebaliknya, saham Adidas turun lima persen. Jadi, inikah tanda-tanda kebangkitan Nike?

Sumber : JIBI/Solopos