Uruguay Menjadi Hebat Berkat Pengagum Che Guevara yang Nyaris Lumpuh

Oscar Tabarez - Reuters/Carlos Barria
06 Juli 2018 12:25 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Saat memimpin Uruguay di Copa America Centenario 2016, baik di sesi latihan maupun pertandingan, Oscar Tabarez hanya duduk di kursi. Dia sudah sangat kepayahan untuk berdiri, apalagi berjalan tergesa untuk memberi tahu pemain La Celeste tentang apa yang harus dan tak boleh mereka lakukan.

Tabarez, setelah 26 tahun penuh sukacita dan kekecewaan sebagai pelatih, terancam istirahat dari dunia sepak bola. Dia divonis menderita Sindrom Guillain-Barre. Ini adalah penyakit neurologis langka, disebabkan sistem imun yang menyerang sebagian sistem saraf.

Tabarez kesulitan menggerakkan sekujur tubuhnya dan nyaris lumpuh. Dia harus memakai kruk untuk berjalan, kadang-kadang terpaksa duduk di kursi roda listrik. Namun, dalam umur 68 tahun, Tabarez menolak meninggalkan dunia yang sudah memberinya ketenaran.

“Saya tidak merasakan sakit. Neuropati ini kadang menyusahkan saya, terutama saat berjalan. Ada kalanya saya tak bisa bergerak, tetapi saya baik-baik saja. Saya akan tetap menjadi pelatih Uruguay,” ucap dia dua tahun lalu sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Tabarez masih mampu mengatasi halangan itu, meski kini dia terlihat lebih tua, dengan kepala yang banyak beruban, kulit muka yang kisut, dan kruk yang selalu menyangga tubuhnya.

Tabarez, yang selalu menimpali pertanyaan jurnalis dengan jawaban yang panjang dan detail serta penuh pertimbangan, menolak untuk membicarakan sindrom yang menyerang tubuhnya. Dia hanya menegaskan penyakit itu tak memengaruhi pekerjaannya dan interaksinya dengan para pemain.

Kengototan Tabarez untuk tetap menjadi pelatih sepak bola meski sarafnya terganggu seperti karakter yang ditunjukkan Urugay selama satu windu terakhir. Uruguy bukan tim yang menarik ditonton oleh mereka yang gandrung akan sepak bola menyerang. Namun, Uruguay tim yang susah dikalahkan.

Uruguay besar berkat semangat nasional yang berkembang menjadi mitos: la garra charrua. Secara harfiah, frasa itu berarti cakar orang-orang Charrua: penduduk Indian yang mendiami ujung barat Amerika Selatan yang kini kita kenal dengan nama Uruguay.

Spirit ini berkembang dan menjadi napas La Celeste selama bertahun-tahun.

Dalam sebuah editorial di El Pais, koran yang berbasis di Montevideo, khalayak Uruguay mengasosiasikan kepahlawanan dengan keberanian alih-alih watak elegan, dan kegigihan alih-alih keterampilan.

Karakter ini masih terlihat di Rusia, bahkan makin mencolok, berlawanan dengan tubuh Tabarez yang kian ringkih. Tabarez masih sangat yakin dengan hasil akhir daripada permainan indah. Dia memilih jalan ini bukan tanpa alasan. Uruguay, menurut Tabarez, tak dilimpahi talenta-talenta unggul seperti yang dimilik Jerman dan Spanyol sehingga possesion football bukan gaya yang cocok. Empat laga di Rusia dilalui La Celeste secara sangat pragmatis. Uruguay sejujurnya bukan tim yang enak ditonton, apalagi ketika menghadapi Arab Saudi di pertandingan kedua Grup A.

Tak sekalipun Uruguay mendominasi penguasaan bola. Kala menang 2-1 atas Portugal, penguasaan bola La Celseta bahkan hanya 38%.

Tabarez memberi perintah kepada Martin Ceceres. (Reuters)

Pemain Muda

Tabarez mulai menangani Uruguay pada 1988 hingga Piala Dunia 1990. Dia membawa La Celeste ke 16 besar Italia 1990 dan merasa gagal. Namun, Tabarez sudah punya gambaran akan apa yang semestinya dikerjakan.

Pelatih yang mendapat julukan sebagai El Maestro karena pernah bekerja sebagai guru ini menekankan pentingnya mengimpor metode pembinaan pemain muda ala Eropa dan menjaga pemain-pemain di timnas junior untuk tetap bermain bersama.

“Ada setidaknya 200.000 anak laki-laki yang bermain sepak bola di Uruguay. Dari jumlah ini hanya 0,14% yang kemungkinan akan pergi ke Eropa,” kata Tabarez dalam sebuah wawancara dengan Reuters 28 tahun silam.

Tabarez ingin memperbaiki persoalan itu dan yang dia lakukan adalah mundur dari kursi pelatih Uruguay untuk melanglang ke Argentina, Italia, Spanyol, sebelum kembali menangani La Celeste pada Mei 2006. Pengalamannya bersama Cagliari, Milan, Real Oviedo, Boca Juniors, dan Valez Sarsfield dia pakai untuk merombak sistem yang menopang keberadaan tim nasional.

“Tabarez membuat perubahan besar yang dibutuhkan Uruguay,” ujar Ketua Federasi Sepak Bola Uruguay Wilmar Valdez.

Di awal pediode kedua Tabarez bersama Uruguay, La Celeste adalah tim butut yang gagal menuju Piala Dunia 2006 karena kalah dalam play off antarzona melawan Australia.

“Kami hampir tidak bersaing secara internasional,” kata Tabarez.

Dia kemudian memperkenalkan peta jalan yang kelak sangat berfaedah, yang kemudian dikenal dengan nama The Proceso, singkatan untuk proposal berjudul Proceso de Institucionalización de Selecciones y la Formación de sus Fútbolistas.

Seperti Johan Cruyff di Barcelona, Tabarez sadar akan pentingnya membentuk tim yang kuat dalam jangka panjang. Dia mengintegrasikan pembinaan pemain tim nasional dari jenjang U-15, U-18, U-20, hingga tim senior dan tak jarang mendidik pemain-pemain muda secara langsung.

Nahitan Nandez, sayap kanan yang sangat diandalkan Tabarez di Rusia, kali pertama mengenal El Maestro saat dia bermain untuk Uruguay U-20.

“Ketika mendapat bola, saya selalu berusaha menggiringnya hingga jarak 20 meter. Dia kemudian menegur, mengatakan saya seharusnya tak bermain seperti itu. Sepak bola adalah permainan tim dan saya harus bermain untuk tim.”

Satu dekade setelah The Proceso pertama kali diperkenalkan, Uruguay memetik hasilnya. 10 dari 11 pemain dengan penampilan terbanyak untuk La Celseta adalah didikan kamp pembinaan pemain muda di Montevideo yang dirombak Tabarez.

Tabarez juga memimpin Uruguay mencapai semifinal Piala Dunia 2010 dan 16 besar Piala Dunia 2014. Pada 2011, dia membawa Uruguay memenangi Copa America.

Tabarez, menyukai ketegaran dan kelembutan seperti Che Guevara. (Reuters)

Meski sangat mengimani la garra charrua, Tabarez menghargai sopan santun. Di dinding rumahnya di Montevideo, dia memacak kaligrafi yang berasal dari kalimat Che Guevara, “Anda harus tegar, tanpa kehilangan kelembutan.”

Ketika Tabarez pertama kali menangani Uruguay pada 1988, La Celeste adalah tim dengan citra buruk. Di Piala Dunia 1986, bek Jose Batista mencatat rekor yang membuatnya dikenang sebagai pemain kasar. Dia diganjar kartu merah saat baru bermain 56 detik setelah menerjang gelandang Skotlandia Gordon Strachan.

El Maestro kemudian membatasi watak liar itu secara serius. Di ruang ganti, kapten Diego Godin dan staf kepelatihan La Celeste akan menyampaikan ceramah panjang manakala ada pemain yang diganjar kartu merah.

“Apa yang dicapai El Maestro saat ini benar-benar sangat besar karena dia memulainya dari nol. Dia menciptakan apa yang kami raih saat ini. Penghargaan dan respek yang diterima Uruguay saat ini benar-benar berasal dari kerja kerasnya,” ucap kiper Fernando Muslera.

Tabarez percaya pada kerja keras dan disiplin. Delapan tahun lalu, ketika skuat La Celeste disambut bak juara dunia saat baru pulang dari Afrika Selatan, Tabarez memberikan ceramah singkat di hadapan suporter. Dia berkata, “Perjalanan yang kami lalui adalah sebuah anugerah.”

Pasase itu bisa mewakili wataknya. Tabarez, pelatih tertua di Piala Dunia 2018 yang terpaksa berjalan dengan bantuan tongkat penyangga, ingin para pemainnya berjuang di setiap pertandingan, seperti dia berjuang menghadapi gangguan saraf.