LONG-FORM: Perjalanan Mohamed Salah dari Delta Sungai Nil Menjadi Superstar Anfield, dan Penyebab Kegagalannya di Chelsea

Mural Mohamed Salah di Kiev, Ukraina, tempat laga final Liga Champions 2017/2018. - Reuters/Kai Pfaffenbach
26 Mei 2018 12:25 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mohamed Salah mencapai level penampilan terbaik musim ini. Jika mampu memenangi gelar Liga Champions bersama Liverpool, kehebatannya bakal dikenang lama. Perjalanannya menjadi pemain besar melewati serangkaian terminal, konflik politik, dan teka-teki posisi di salah satu klub terbesar Inggris.

 Mohamed Salah harus menempuh jalan berliku sebelum sukses di Liverpool. (Reuters)

Nagrig adalah desa di delta Sungai Nil yang dihuni sekitar 15.000 jiwa. Tempat kerbau, sapi, keledai berbagi tempat dengan mobil, sepeda motor, dan dokar di jalanan berdebu. Flat yang kebanyakan tidak diplaster bertumpuk dan berjajar kurang teratur, memperlihatkan susunan bata merah yang dilekatkan semen. Batang besi kecil mencuat di sebagian atap, menandakan kawasan itu terus berkembang secara perlahan.

Seperti hampir semua permukiman di Mesir, Nagrig memiliki lapangan bola. Rumputnya sangat tipis dan hanya tumbuh di beberapa permukaan: sebuah tanah lapang yang dipagari tembok bata yang sebagian sisinya sudah ambruk, dengan mistar gawang yang catnya telah mengelupas.

Banyak anak kecil di sana bermain bola tanpa alas kaki, juga Mohamed Salah sekitar 20 tahun lalu.

Di tempat itu, dan beberapa kali di jalan desa, Salah mulai belajar menyepak bola.

“Saya jatuh cinta dengan sepak bola sejak kecil, saat umur saya sekitar tujuh atau delapan tahun,” ucap Salah.

“Saya selalu menonton Liga Champions dan ketika bermain di jalan bersama teman-teman, saya membayangkan menjadi Ronaldo [yang dari Brasil], Zidane, dan Totti.”

Lapangan tempat Salah bermain bola semasa bocah hanya berjarak dua menit jalan kaki dari apartemen keluarganya. Bakatnya terasah karena kerap beradu kemampuan dengan anak-anak yang usianya lebih tua, termasuk saudaranya. Bakat anak ingusan yang menyebar dari mulut ke mulut di seantero Provinsi Gharbia di tepi Sungai Nil.

Salah kecil ditawari bermain lebih serius di sebuah klub amatir di Basyoun, kota terdekat dengan desanya. Kehidupannya mulai berubah. Saban pekan, Salah harus mengayuh sepeda selama setengah jam dari rumahnya untuk berlatih teknik-teknik dasar sepak bola. Talenta Salah terlalu besar di klub tersebut.

Dia kemudian digaet Tanta, klub di Ibu Kota Provinsi, dan perjalanannya untuk berlatih makin jauh, satu setengah jam naik bus. Pada usia 14 tahun, kehidupannya berubah. Liga Pepsi, kompetisi yang dihelat perusahaan minuman untuk anak-anak sekolah di Mesir menjadi pembuka pintu. Di ajang itu, pemandu bakat dari El Mawkaloon, klub asal Kairo, kepincut dengan kemampuan Salah.

“Saya menandatangani kontrak dengan Arab Contractors [lebih kondang dengan nama El Mokawloon] dan karier profesional saya dimulai. Itu adalah masa-masa yang sangat berat, sungguh sangat berat.”

Kehidupan remajanya habis di lapangan dan di atas aspal. El Mokawloon, klub Liga Premier Mesir, berada di Ibu Kota Kairo. Jaraknya 129 kilometer dari Nagrig, dan Salah harus melaju karena masih sekolah di desanya. Lantaran sudah menjadi pebola profesional, Salah kudu berlatih lima hari tiap pekan. Dalam satu hari, dia naik bus delapan setengah jam. Empat jam berangkat, dan empat setengah jam pulang.

Salah musti berada di sekolah pukul 07.00 sampai 09.00 pagi. Surat rekomendasi dari El Makowloon menjadi bekal untuk minta izin ke guru karena dia harus berlatih pukul 14.00 siang.

“Jadi saya hanya dua jam belajar di kelas. Kalau saja saya sekarang tidak menjadi pemain bola, pasti kehidupan saya bakal sulit karena tak merasakan banyak pendidikan.”

Latihan dimulai pukul 15.30 atau 16.00 sore dan baru kelar dua jam kemudian. Selesai berkeringat, Salah hanya punya sedikit waktu untuk bersenda gurau dan melepas penat bersama rekan setimnya. Dia mesti buru-buru ke terminal agar tak ketinggalan bus. Perjalanan makin sukar karena Salah tidak cukup naik satu bus. Dia berganti dua atau tiga bus dan pada hari yang buruk, Salah harus merasakan menjadi penumpang yang dioper, pindah-pindah bus sampai tujuh kali. Jika perjalanan lancar, Salah bisa sampai rumah pukul 22.00 malam. Selanjutnya anak muda ini makan secukupnya, tidur, dan kembali mengulang hal yang sama keesokan harinya.

“Selama lima hari dalam sepakan, dalam tiga atau empat tahun, saya menempuh perjalanan itu. Seperti saya bilang, itu adalah masa-masa yang berat. Tetapi saya hanya bocah 14 tahun yang ingin menikmati bermain bola.”

Cengeng

Salah tak tahu pasti kapan dia mulai sungguh-sungguh berniat mencari nafkah dari lapangan hijau. Sebagai remaja, keinginannya tak terlalu jauh, hanya sebatas bersenang-senang di lapangan dan patuh terhadap perintah pelatih.

“Ketika pertama kali tiba di klub ini, Salah selalu menendang memakai kaki kiri. Saya suruh dia lebih banyak memakai kaki kanan. Jawabannya hanya, ‘Ya, Pak.’ Selalu jawaban seperti itu, sangat sopan,” ujar Hamdi Nooh, mantan pemain Timnas Mesir  yang menjadi pelatih pertama salah di El Mokawloon.

“Saya menelepon ayahnya, memintanya menjaga Salah untuk bersikap sebagai pemain profesional dengan menaati jadwal: Tidak begadang untuk menonton televisi. Tidak tidur larut malam. Ayahnya tidak melakukan apa yang saya minta, tetapi Salah bisa menjaga diri. Sesampai rumah, dia salat, kemudian tidur lebih awal.”

Salah muda adalah sosok disiplin dan tegar, rela gonta-ganti bus delapan jam sehari. Namun dia remaja cengeng.

“Ketika saya melatih tim U-16 Arab Contractors, saya punya lima bek kiri, salah satunya Salah,” kata Said El-Shishini, yang dua tahun melatih tim junior El Mokawloon.

Pada sebuah pertandingan Liga Kairo, El Mowkaloon menantang ENPPI.

“Kami menang 4-0 dan di pertandingan itu Salah saya tempatkan sebagai bek kiri. Dia rajin menyerang dan tak kurang dari lima kali dia berhadap-hadapan dengan kiper lawan. Tetapi Salah tak bisa mencetak gol.”

El-Shishini insaf, kemampuan terbaik Salah bukan di lini belakang.

“Yang saya lihat bukan peluang yang dia buang, tetapi kemampuannya menggiring dari belakang hingga menghadapi kiper. Gara-gara berlari terlalu jauh, dia gagal bikin gol.”

Bagi Salah, itu sangat menyesakkan. Seusai laga dia mewek. El-Shisini mencoba memberi penghiburan. Dia memberikan 50 paun Mesir kepada satu pemain yang mencetak hattrick, dan 25 paun kepada Salah.

Itu adalah momentum paling penting dalam perjalanan sepak bola Salah.

“Mulai hari itu, saya tempatkan Salah sebagai sayap kanan. Saya katakan bahwa dia bisa menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Kairo U-16 dan Liga Nasional U-17. Saya melatih Arab Contractors di dua kompetisi itu dan Salah bermain bersama kedua tim. Pada akhir musim, Salah mencetak 35 gol dan selanjutnya dia tak pernah berhenti menjaringkan bola.”

Pada usia 17 tahun, Salah menembus skuat utama El Mokawloon.

“Kemudian saya sadar bisa berkarier di sepak bola. Sebelumnya, saya hanya takut tak bisa bermain bola dan berharap semuanya lancar-lancar saja sehingga rela menempuh perlanan jauh dari desa ke Kairo,” ucap Salah.

Salah sudah mempertaruhkan semuanya: harum masa remaja, teman-teman sekampung, kenakalan-kenalakan kecil yang bagi sebagian besar orang bakal membekas seumur hidup, pendidikan formal, cita-cita.

“Sempat terbersit dalam pikiran, ‘Akan jadi seperti apa saya kelak?’ Itu pertanyaan yang sulit kujawab. Seandainya saya bukan pesepak bola yang baik, saya bakal hidup susah karena sudah saya serahkan semuanya untuk sepak bola.”

Masih Cengeng

Salah mencatat debut di Liga Premier Mesir sebagai pemain pengganti pada 3 Mei 2010. Kala itu El Mokawloon berbagi angka 1-1 dengan El Mansoura. Gol pertamanya berselang tujuh bulan kemudian, ke gawang tuan rumah El Ahly dalam pertandingan yang berkesudahan 1-1.

Salah masuk skuat Mesir U-20, bersama teman-temannya yanng sekarang memperkuat Mesir senior: Mohamed Elneny, Ahmed Hegazi, dan Omar Gaber. Pelatih mereka kala itu, Diaa El Sayed, sudah mengenal Salah sebagai sosok gigih.

“Dia selalu ingin belajar dan memperbaiki diri. Salah juga rendah hati, menghormati rekan setim dan pelatih, dan yang paling penting dia punya komitmen luar biasa terhadap sepak bola, baik di dalam maupun luar lapangan,” ucap El Sayed.

Namun, Salah tetap laki-laki yang gampang menangis.

“Di Piala Afrika Junior pada 2011, kami melawan Afrika Selatan dan Salah membuang sedikitnya 10 peluang. Setelah laga, Salah menangis tak henti-henti meski kami lolos ke semifinal.”

El Sayed mencoba melipur kekecewaan Salah, tidak dengan paun Mesir sebagaimana yang dilakukan El-Shishini di Tim U-16 El Mawkaloon, tetapi dengan cara lain yang lebih terhormat.

“Saya membawanya ke lapangan latihan. Saat itu hujan turun dan saya menyuruhnya menendang bola ke arah gawang yang kosong. Teman-temannya berada di sekelilingnya untuk menyorakinya dan membuatnya bahagia.”

Di mata El Sayed, Salah adalah pencetak gol ulung, lahir dan besar di lapangan untuk membobol gawang.

“Semua yang mengikuti perjalanan karier Salah pasti tahu, dia selalu memperbaiki teknik penyelesaian akhir. Awalnya dia berusaha mencetak gol dengan berlari melewati bek dan memilih posisi yang tepat, tetapi dia sering meleset. Dia kemudian berusaha lebih keras lagi dan akhirnya berhasil,” ujar El Sayed.

Dampak Arab Spring

Mulai musim 2011-2012, Salah menjadi pemain inti El Mowkaloon dan bermain di tiap pertandingan. Bakatnya terendus dua klub besar Mesir, Ah Ahly dan Zamalek. Bos El Mawkoolon Ibrahim Mahlab, yang berperan besar dalam Revolusi Mesir dan menjadi Perdana Menteri pada 2014-2015, mencegah Salah hijrah ke sesama klub dalam negeri.

“Mahlab merasa Salah punya kemampuan untuk sukses di Eropa,” ujar Direktur Akademi El Mokawloon Alaa Nabil.

“Salah sebenarnya khawatir jika harus meninggalkan Mesir, tetapi Mahlab tahu, Salah bakal pergi ke benua lain.”

Kemudian, Arab Spring, sebuah perubahan politik yang mengguncang sebagian Timur Tengah, bersemi dan merembet ke tribune stadion.

1 Februari 2012, Al Masry, klub dari Port Said menjamu Al Ahly, kesebelasan Kairo. Sebagian suporter garis keras Al Ahly adalah penentang Presiden Hosni Mubarak. Pertandingan dihelat tepat satu tahun setelah demonstrasi besar-besaran di Tahrir Square. Di tengah laga, suporter Al Masry yang meluber sampai tepi lapangan menyerbu pendukung Al Ahly. Mereka menghunus pisau dan melontarkan batu. Ultras Al Ahly terkepung, sementara pintu stadion terkunci. 74 Orang tewas. Sebagian tertikam, tak sedikit yang terinjak-injak saat kabur menghindari serangan. Penyelidikan digelar. Sebulan kemudian, Asosiasi Sepak Bola Mesir menghentikan kompetisi, seiring dengan memburuknya situasi politik di negeri tersebut.

Bakat Salah yang sedang berkembang sejenak terhenti. Untungnya, 16 Maret, empat hari setelah Liga Mesir ditangguhkan akibat tragedi di Stadion Port Said, klub yang sedang berjaya di Super Liga Swiss, Basel, mengajak Timnas U-23 Mesir melakoni pertandingan persahabatan di Stadion Rankhof, Basel. Laga berakhir 4-3 untuk Mesir U-23. Salah bermain hanya di babak kedua, tetapi dia membuat brace. Basel kepincut dan meminta Salah mengikuti latihan di klub tersebut selama sepekan. Pada 10 April, Salah menandatangani kontrak bersama Basel untuk empat tahun. Perjalanannya menuju kejayaan dimulai ketika Basel tengah dalam periode buruk. Semusim sebelumnya, Basel menjadi juara Super Liga Swiss dan lolos ke 16 besar Liga Champions. Namun, pada paruh musim 2012-2013, Basel tertahan di peringkat kedua. Pelatih Heiko Vogel yang memberi Salah debut di Liga Champions dan kompetisi domestik Swiss, didepak dan diganti Murat Yakin. Di bawah asuhan bekas pemain Timnas Swiss berdarah Turki itu, bakat Salah berkembang pesat.

“Di luar lapangan, Salah terlihat rendah hati dan sederhana. Di lapangan, dia berubah menjadi agresif, tetapi pintar dan mampu memimpin rekan-rekannya,” ucap Yakin.

Mekar di Basel

Pada musim perdananya di Swiss, Salah bermain 29 kali dan mencetak lima gol. Pada musim kedua argo permainannya lebih pendek, 18 kali, dengan catatan empat gol. Panggung utama Salah adalah kompetisi Eropa. Pada 2012-2013 dia membikin dua gol dari 16 penampilan di Liga Eropa dan musim berikutnya meledak dengan catatan lima gol dari sepuluh laga di Liga Champions.

Pertandingan yang sanget penting baginya adalah semifinal Liga Europa 2012-2013 melawan Chelsea. Meski Basel kalah 2-5 secara agregat, Salah berhasil menyarangkan satu gol di Stamford Bridge. Yakin sudah hakulyakin Salah tak akan awet di Basel. Sebelum menghadapi Chelsea, dia sudah membuat prediksi.

“Jika dia bisa membuat gol di pertandinan itu, dia tidak mungkin bertahan lama di sini.”

Musim 2013-2014 lebih epik. Basel berada dalam satu grup dengan Chelsea di fase penyisihan Liga Champions. Basel menang 2-1 di London dan Salah membuat gol penyama kedudukan. Pada pengujung November 2013 di St. Jakob-Park kala Basel menjamu Chelsea, Salah mencetak gol kemenangan dalam laga yang berakhir 1-0. Direktur Teknik Chelsea Michael Emenalo silau dengan ketajaman Salah.

23 Januari 2014, Salah meneken kontrak di Chelsea dengan mahar 11 juta paun. Dia adalah pemain Mesir pertama di Stamford Bridge. Pada usia 22 tahun, Salah datang ke klub yang dijejali banyak pemain muda yang juga sama-sama berkembang: Eden Hazard, Willian, Oscar, Andre Schurrle.

Kepiawaian yang dia tunjukkan di El Mowkaloon dan Basel seketika redup. Selama satu tahun di London, Salah hanya tampil 19 kali dengan catatan dua gol.

Hari paling buruk Salah di Chelsea adalah pada 28 Oktober 2014. Dalam pertandingan babak kelima Piala Liga, Chelsea menang tipis 2-1 atas klub League Two Shrewsbury Town berkat gol bunuh diri pemain lawan, Jermaine Grandison, dan sepakan Didier Drogba. Salah yang dimainkan sejak menit pertama bermain sangat butut. Dia memaksa menembak dari sisi lapangan dan bola tendangannya melenceng jauh. Seusai laga, dia diserang secara terbuka oleh Jose Mourinho, pelatih Chelsea kala itu. Mourinho mengatakan pertandingan yang sulit dimenangi itu memudahkannya menentukan siapa yang akan diturunkan di pertandingan berikutnya.

“Saya ingin pemain memberi saya masalah [dalam memilih pemain]. Saya suka masalah. Tetapi, ada beberapa pemain yang saya turunkan selama 90 menit hari ini tidak mendatangkan problem.”

Ketika Mourinho ditanya apakah Salah salah satu pemain yang dia cerca, Mou secara lugas berkata, “Ya.”

Pada hari terakhir bursa transfer musim dingin 2015, Salah dipinjamkan ke Fiorentina sebagai bagian dari tukar guling dengan gelandang Kolombia Juan Cuadrado. Di Italia, dia mulai memermak karier yang berantakan. Salah memilih nomor punggung 74, sebagai penghormatan atas nyawa-nyawa yang melayang di Tragedi Stadion Port Said. Periode singkatnya di Artemio Franchi di bawah asuhan Vincenzo Montella cukup cemerlang. Salah membuat enam gol dari 16 penampilan. Gol-golnya cukup krusial, seperti di semifinal Liga Europa melawan Tottenham Hotspur dan semifinal Copa Italia melawan Juventus.

Hanya enam bulan berada di Fiorentina, Salah melanjutkan masa peminjaman dari Chelses di Italia. Dia bergabung dengan Roma, dilatih secara tepat oleh Rudia Garcia, mencetak 14 gol dan enam assist dari 34 laga, serta menjadi Pemain Terbaik Serie A 2015-2016. Salah melanjutkan kecemerlangannya dengan rekor 15 gol dari 31 partai Serie A satu musim kemudian. Karakter permainannya benar-benar terlihat. Giringan cepat, tendangan keras, dan kepiawaian melewati bek lawan.

Kualitas permainan yang sempat membuat Mourinho menganggap bakat Salah setara dengan Arjen Robben dan Gareth Bale kembali muncul. Media Italia melabelinya dengan julukan Messi dari Mesir. Jurgen Klopp pun memboyongnya ke Anfield untuk memoles dan menyempurnakan talenta yang pernah disia-siakan Mou.

Jurgen Klopp, berjasa besar menyempurnakan bakat Salah. (Reuters)

Alasan Gagal di Chelsea

Tak ada yang tahu secara pasti mengapa Salah yang punya bakat besar malah melempem di Chelsea. Salah menganggap keterpurukannya di Chelsea lantaran dia tak punya banyak kesempatan.

“Saya tak banyak bermain. Saya di sana selama satu tahun, tetapi hanya bermain dalam enam bulan awal. Selanjutnya, sangat sulit untuk berpartisipasi di tiap pertandingan. Saya pergi ke Fiorentina, banyak mencetak gol. Kemudian di Roma saya tampil sangat baik dan ahirnya kembali ke Inggris. Tak masalah saya berhasil atau tidak,” ujar Salah kala memulai musim bersama The Reds.

Nyatanya dia berhasil. Salah menjelma menjadi superstar. Dia membawa klubnya melaju ke final Liga Champions, mencetak 11 gol di 14 laga, menjadi Pemain Terbaik Inggris, mencatat rekor gol dalam semusim di Liga Premier, menyabet trofi sepatu emas untuk 32 golnya dan selangkah lagi mengabadikan namanya dalam buku sejarah Liverpool.

Agresivitas Salah cocok dengan strategi menekan lawan di seluruh area permainan, yang membuat racikan Klopp dijuluki gegenpressing. Namun, Klopp menilai Salah bisa begitu hebat karena bebannya untuk membawa Mesir ke Piala Dunia telah terangkat. Pada Oktober 2017, Salah mencetak gol ke gawang Kongo lewat titik penalti dan mengirim Mesir untuk kali pertama ke Piala Dunia sejak 1990. Pengaruh Salah di Mesir memang sangat besar.

“Dia terlibat dalam tujuh gol yang membawa kami ke Rusia: dua assist dan lima gol,” ujar Mahmoud Fayez, Asisten Manajer Mesir.

Penilaian lain cenderung mengambinghitamkan Mourinho karena menjadikan sayap kanan Chelsea sebagai enigma yang sulit dipecahkan pemain mana pun.

“Juan Cuadrado mencoba bermain di posisi itu, dan tidak berhasil. Begitu juga Andre Schurrle. Bahkan Kevin de Bruyne juga mencoba posisi itu dan gagal. Mo Salah pun demikian,” kata Pat Nevin, bekas pemain Chelsea dan kemudian menjadi pengamat untuk BBC Sport.

Mantan rekan-rekannya memberikan opini yang netral.

“Dia punya kualitas besar tetapi saat dia tiba, kami punya Willian, Oscar, dan saya sendiri. Situasi itu tidak mudah untuk Salah,” ucap Eden Hazard.

Frank Lampard, legenda Chelsea punya perspektif serupa. Apalagi, Salah digaet sebagai proyek jangka panjang Emenalo, tetapi harus berlatih di bawah manajer yang tak sabaran semacam Mourinho.

“Tidak mudah bagi siapa pun untuk bersaing dengan Hazard, Oscar, dan Juan Mata di posisi yang sama. Salah adalah pemain muda yang dikelilingi pemain-pemain muda yang sudah matang,” ujar Lampard.

Toh, kegagalannya di London tak terlalu jadi soal. Salah sudah meretas jalan yang tepat untuk melegenda bersama Liverpool dan Mesir. Waktu peminjamannya ke Fiorentina dan Roma tak ubahnya fase yang harus dia lalui dalam perjalanan pulang pergi Nagrig-Kairo. Gonta-ganti bus yang menempanya menjadi sosok disiplin dan tak gampang menyerah, meski sesekali dia harus menangis.