LONG-FORM: Mario Gotze, Kemerosotan Tuhan Palsu

Mario Gotze - Reuters
18 Mei 2018 12:25 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kata “Gotze” kali pertama diciptakan Martin Luther saat dia menyalakan obor reformasi dengan menerjemahkan Bibel dari bahasa Latin pada abad ke-16. Artinya tuhan palsu, sesembahan palsu, idola palsu.

Mario Gotze lahir di Memmingen, sebuah kota yang menjadi pusat ekonomi dan pendidikan di Bayern, Jerman, pada 3 Juni 1992. Ayahnya, Jurgen, adalah cendekiawan yang mendapat jabatan profesor teknik elektro di Dortmund University of Technology. Mario mewarisi nama belakangnya dari bapaknya. Tak ada jelas benar kenapa keluarga itu sampai menyandang nama Gotze. Bagi Mario, nama itu bisa jadi nasib sial. Itu adalah nubuat untuk karier sepak bola yang dieja sesuai makna yang dimaksud Martin Luther: melesat dan mendatangkan harapan sebelum kemudian memudar pelan-pelan dan dilupakan banyak orang.

Menggenggam Dunia

13 Juli 2014 di Stadion Maracana, Gotze duduk di bangku cadangan. Final Piala Dunia berjalan alot. Hingga menit ke-88, skor Jerman menghadapi Argentina masih kacamata. Gotze bersiap-siap masuk menggantikan Miroslav Klose yang mejan. Di pinggir lapangan, Joachim Low memberikan taklimat singkat.

“Tunjukkan bahwa kamu lebih hebat daripada Messi.”

Di pertandingan itu, Gotze memang lebih baik ketimbang Messi. Tujuh menit sebelum laga bubar, Gotze menerima umpan dari kawan karibnya, Andre Schurrle. Dia mengontrol bola dengan dada, memutar tubuh dan sambil menjatuhkan diri mengayunkan kaki kirinya menghantam bola. Sergio Romero yang selama 113 menit menjaga gawangnya tetap perawan akhirnya kebobolan. Jerman menjadi juara dunia.

Gotze dinobatkan jadi pemain terbaik di final. Usianya baru 22 tahun. Masa depan cerah seperti membentang di mukanya. Yang terjadi adalah kebalikannya.

Awal Kemerosotan

Musim sebelum Piala Dunia 2014 menjadi waktu adaptasi bagi Gotze, dan juga awal kemerosotan. Dia hijrah ke Bayern dari Dortmund dengan mahar 37 juta euro. Dortmund dan Bayern merupakan musuh bebuyutan, ibarat Madrid dan Barcelona di Liga Spanyol, Roma dan Lazio di Italia, Celtic dan Rangers di Skotlandia, Boca Juniors di River Plate. Rivalitas yang mengurat akar itu sering mengorbankan pemain. Contoh paling masyhur adalah ketika Luis Figo dilempar kepala babi karena pindah dari Barcelona ke Madrid.

Gotze dipuja, salah satunya, karena berkali-kali menegaskan kesetiaannya kepada Dortmund. Namun, 36 jam sebelum Dortmund kalah dari Madrid di final Liga Champions 2012/2013, Gotze mengumumkan dia bakal hengkang ke Bayern. Suporter Dortmund meradang. Gotze dihujat, dilabeli sebagai Judas yang gampang tergoda fulus. Tak sedikit fans Dortmund datang ke Wembley, venue Madrid-Dortmund, mengenakan kaus kuning dengan nama dan nomor Gotze dibubuhi tanda silang merah.

Pada konferensi pers perdananya sebagai pemain Bayern, dia menabalkan cap buruk sebagai pemain mata duitan. Gotze mengenakan kaus Nike, sponsor pribadinya, padahal sponsor utama Bayern adalah Adidas. Kemudian, di laga Der Klassiker musim itu, sebuah spanduk dibentangkan di Stadion Westphalen, bertuliskan, “Rayuan uang menunjukkan seberapa besar hati yang dimiliki manusia. Persetan Gotze.”

Disanjung

Jauh sebelum Low menyampaikan petuah agar Gotze membuktikan bahwa dia lebih jago daripada Messi, Gotze sudah bertabur julukan kelewat tinggi: Messi dari Jerman. Gotze bisa bermain di sisi mana pun di belakang penyerang. Giringannya oke. Ia sangat mumpuni mengontrol bola, juga cepat saat berlari. Ketika pemain-pemain muda di Jerman berkecambah berkat reformasi pembinaan pemain muda, Gotze mencuat paling tinggi.

Jurgen Klopp, pelatih yang pertama kali mengorbitkan Gotze (Reuters)

Pada 21 November 2009, dalam umur 17 tahun Gotze mencatat debut di Bundesliga melawan Mainz. Pelatih Dortmund kala itu, Jurgen Klopp, memasukkannya di menit ke-88 untuk menggantikan gelandang senior Jakub Blaszczykowski. Saat usianya belum 19 tahun, Gotze sudah menjadi bagian penting kesuksesan Dortmund menjuarai Bundesliga 2010-2011. Gotze mengulang keberhasilan itu semusim kemudian dan makin berkilau pada 2012-2013 meski Dortmund gagal meraih trofi domestik dan Liga Champions.

Gotze menjalani debut di Timnas Jerman pada 17 November 2010 melawan Swedia. Dia adalah pemain termuda yang memperkuat Die Mannschaft sejak Uwe Seeler kali pertama membela Jerman Barat pada 1954. Gotze, bersama Andre Schurrle, menjadi pemain Jerman pertama yang lahir setelah runtuhnya tembok Berlin.

Gotze mencetak gol perdana di level internasional saat Jerman mengalahkan Brasil dengan skor 3-2 di Stadion Maracana, 10 Agustus 2011, saat umur Gotze 19 tahun 68 hari. Gotze pun berbagi tempat dengan Klaus Sturmer sebagai pencetak gol termuda untuk Timnas Jerman setelah era Perang Dunia.

Gol itu mencerminkan bakat dan potensi Gotze: sepakan dari dekat garis akhir lapangan yang diawali giringan dan kontrol yang tenang.

“Mario Gotze adalah talenta terbesar yang pernah lahir di negeri ini. Saya sering menasihati pemain tentang hal ihwal di lapangan yang tak mereka ketahui. Tetapi wejangan ini tak dibutuhkan Gotze. Dia sungguh luar biasa,” ujar Matthias Sammer, bekas bek Jerman dan Dortmund yang meraih Ballon d’Or pada 1996.

Tokoh-tokoh terkemuka di sepak bola Jerman juga memberikan sanjungan. Felix Magath, pelatih dengan tiga titel Bundesliga, mengatakan bakat yang dimiliki Gotze hanya bisa ditemukan satu abad sekali. Mats Hummels, bek Timnas Jerman, memuji rekannya sebagai pemain dengan karakter nomor 10 terbaik di dunia. Franz Beckenbauer yang membawa Jerman Barat menjuarai Piala Dunia saat dirinya menjadi pemain dan pelatih menyanjung Gotze sebagai gelandang serang terbaik yang dimiliki Jerman.

Dirk Reimoller, pelatih Gotze di liga regional berkata, “Pemain seperti Gotze tak butuh ditemukan, mereka akan menemukan kehebatan mereka sendiri.”

Di usia 20 tahun, Gotze bermain di Euro 2012 Ukraina-Polandia dan mencatat satu penampilan kala Jerman menghadapi Yunani di perempat final. Dua tahun kemudian, dia menggenggam dunia. Lalu Pep Guardiola merusak segalanya.

Tak Cocok dengan Guardiola

Guardiola mulai melatih Bayern pada musim yang sama dengan kedatangan Gotze. Dia datang dengan ide yang sangat jelas: menguasai bola selama mungkin dan menjajal posisi berbeda untuk pemain yang sudah mapan dengan peran tertentu. Pep bisa menyulap Philipp Lahm sebagai gelandang pengatur permainan meski dia bertahun-tahun menjadi bek kanan. Manuel Neuer sangat piawai menjadi kiper sekaligus sweeper lantaran operan dari garis belakang fardu hukumnya dalam basis permainan Pep. 

Bahkan di Manchester City sekarang, Pep mengubah Fabian Delph yang dikenal sebagai gelandang semenjana menjadi bek kiri yang pintar membaca permainan. Mahakarya Pep tentu saja kala menjadikan Messi sebagai false nine. Gotze tergiur dengan angan-angan menyamai Messi.

“Gotze pergi karena dia adalah pemain yang dipilih Guardiola. Gotze juga ingin bermain dengan gaya Guardiola,” ujar Jurgen Klopp mengungkapkan alasan kepindahan Gotze ke Bayern.

Klopp yang sangat kehilangan pemain andalannya di Dortmund kemudian membuat gurauan.

“Saya tak bisa berbahasa Spanyol dan memendekkan tubuh sampai 15 sentimeter [agar persis seperti Pep]. Saya juga tak bisa meninggalkan keyakinan terhadap sepak bola berbasis transisi [yang selama ini diterapkan di Dortmund dan belakangan di Liverpool] dan tiba-tiba memainkan tiki-taka.”

Pep pun mencoba Gotze sebagai pusat permainan, memberinya posisi yang bebas di belakang striker meski sebenarnya dia mafhum, Gotze tak sebaik Messi.

“Messi dan Gotze tak bisa dibandingkan. Messi adalah pemain terhebat sepanjang sejarah. Gotze telah bekerja keras dan dia masih bisa berkembang dan saya mencoba membantunya. Tetapi Messi ada di level lain,” ujar Pep.

Gotze tak cocok bermain di tim Pep Guardiola meski dia sangat menginginkannya. (libertaddigital.com)

Omongan Pep benar dan hiperbola yang dilekatkan kepada Gotze sebelum dia membela Bayern terbukti keliru. Selama tiga musim di Bavaria, Gotze tak berkembang sebagaimana yang diharapkan. Atribut-atribut permainan yang membuatnya pernah diumbulkan sangat tinggi kemudian lenyap. Di dua musim awal, Gotze tampil reguler dan selalu mencetak gol (45 penampilan di semua kompetisi dengan 15 gol di musim perdana dan 48 penampilan dengan 15 gol di musim kedua). Koleksi gelarnya juga lumayan lengkap. Namun, catatan itu hanya membuktikan Gotze sebagai pemain tim yang lumayan bagus, bukan penakluk segala tantangan seperti Messi.

Tak jelas benar apakah Gotze tidak bisa memahami kemauan Pep atau metode Pep tak cocok untuk Gotze.

Agen Gotze, Volker Struth, menyalahkan Pep karena kliennya jarang diberi kesempatan bermain di laga krusial. “Guardiola telah menghancurkan Gotze. Dia merasa tak diberi kepercayaan oleh pelatih, tetapi ketika diturunkan, dia dipaksa untuk menjadi penentu, pengubah permainan,” ucap Struth.

“Gotze hanya bermain di laga-laga melawan tim kecil dan saya kaget karena tak ada siapa pun di Bayern yang membelanya. Saya heran karena Guardiola tak pernah memainkannya di pertandingan penting seperti semifinal Liga Champions.”

Namun, barangkali Pep tak sepenuhnya salah.

Beckenbauer yang pernah mengelu-elukan Gotze balik menyudutkannya.

“Adakalanya dia bermain seperti pemain muda, kalah dalam dua duel dan malah bertahan. Karakter itu tak cocok di Bayern. Seharusnya dia bisa dewasa.”

Gotze juga dituduh angin-anginan. Dia acap berlatih keras seperti Cristiano Ronaldo yang kerasukan  hasrat menjadi pemain hebat: menjalani diet ketat, ikut sesi yoga, dan membentuk otot-otot di tubuhnya. Tetapi, ketika dia menjalani laga yang buruk, mentalnya ambruk. Menurut Mehmet Scholl, bekas pemain Bayern dan Timnas Jerman, Gotze adalah pribadi yang malas berlatih jika timnya kalah atau gagal menang.

Bukan False Nine

Yang kasatmata, Gotze tak bisa memerankan false nine, baik di Bayern maupun Jerman. Low adalah peniru Pep paling ulung. Ketika Pep menempatkan Lahm sebagai gelandang, Low ikut-ikutan meski kemudian dia merevisinya karena Jerman tak punya bek kanan bagus di Piala Dunia 2014. Low juga menempatkan Gotze sebagai nomor sembilan semu. Meski Gotze mencetak gol kemenangan di final Piala Dunia, sebenarnya dia tak bermain bagus sepanjang turnamen.

Gotze memulai Piala Dunia sebagai pemain inti saat Jerman menumbangkan Portugal 4-0. Dia mencetak gol di laga kedua kala Jerman bermain imbang 2-2 melawan Ghana. Namun, Gotze tak menghuni starting line up di empat pertandingan berikutnya, termasuk final. Tanpa Gotze, Jerman tetap solid dan tajam. Saat Jerman mencukur Brasil 7-1, Gotze sama sekali tak bermain.

Gotze gagal menjadi striker semu di Bayern dan akhirnya terperosok menjadi idola semu. (Reuters)

Pada Euro Prancis 2016, pola serupa terulang. Gotze bermain di semua partai fase grup dan sama sekali tak diturunkan di babak gugur. Ketidakmampuan Gotze menjadi penyerang semu terlihat kentara saat Jerman menghadapi Ukraina di laga pembuka. Selama 18 menit 26 detik, bekas pemain muda jenius itu sama sekali tak menyentuh bola.

Selepas Euro, Gotze hengkang dari Bayern dan kembali ke Dortmund. Dia menyunggi harapan untuk kembali menemukan bentuk permainan terbaik setelah menguap tiga musim di Bayern. Sayangnya, masalah lain muncul, bahkan lebih pelik. Problem itu diketahui setelah otot Gotze berkali-kali cedera. Investigasi tim kesehatan Dortmund menemukan gangguan metabolisme pada tubuh Gotze yang membuatnya gampang sakit. Musim itu sangat buruk. Di bawah asuhan Thomas Tuchel yang sangat gemar membongkar kerangka tim, Gotze hanya bermain 16 kali dan mencetak dua gol. Toh, Gotze punya harapan besar karena sumber persoalan pada dirinya sudah diketahui. Harapan yang terbukti keliru.

Titik Nadir

Kepergian Tuchel dan turbulensi di kursi kepelatihan Dortmund pada musim ini semakin mengikis Gotze. Dia berkali-kali diminta Peter Bozs untuk bermain lebih ke dalam dan menjadi gelandang bertahan. Permainan Dortmund malah amburadul, begitu pula Gotze.

Bozs pergi dan Peter Stoger datang untuk mengambil alih kemudi Dortmund. Performa Gotze tak juga membaik. Stoger yang lebih konservatif kembali ke skema 4-2-3-1. Tetapi situasi buruk sudah sukar diperbaiki. Tak ada tempat untuk Gotze dalam skema kuno Stoger. Pelatih yang tak pernah menangani tim besar itu lebih mempercayaai Jadon Sancho dan Christian Pulisic di sisi sayap serta Marco Reus di tengah. Dalam tiga laga terakhir Dortmund di Bundesliga 2017/2018, Gotze tak dimainkan.

Low sadar dengan situasi ini. Dia dikenal sebagai pelatih yang loyal dan sabar kepada anak buah. Meski bermain jelek di klub, Matthias Ginter dan Lukas Podolski tetap dia beri kepercayaan untuk berseragam Jerman. Namun, kesabaran Low terhadap Gotze habis. Pada laga persahabatan internasional pada Maret lalu, Low untuk kali pertama sejak enam tahun meninggalkan Gotze dan ketika mengumumkan skuat sementara Jerman untuk Piala Dunia 2018, Low tak menyertakan  pahlawan yang memberi Jerman trofi kempat Piala Dunia.

“Dia tidak dalam bentuk permainan terbaik. Saya harap dia bisa kembali,” ucap Low menjelaskan alasannya tak membawa Gotze ke Rusia.

Usia Gotze masih muda. 3 Juni nanti dia baru menginjak 26 tahun. Masih banyak waktu bagi dia untuk memulai dari awal kariernya yang berantakan dan menukik tajam. Jika dia tak pernah kembali, makna yang terkandung dalam namanya akan menjadi kenyataan. Gotze, pada akhirnya, tak lebih dari idola palsu.