Cara Zidane Membentuk Skuat & Gaya Kepelatihan yang Dia Terapkan di Madrid

Zinedine Zidane - Reuters/Michael Dalder
05 Mei 2018 12:25 WIB Budi Cahyana Sepakbola Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Harianjogja.com, JOGJA—Januari 2016, Zinedine Yazid Zidane ditunjuk menduduki kursi paling tidak stabil dalam jagat sepak bola Eropa: pelatih Real Madrid. Zizou menggantikan posisi Rafael Benitez yang tak akur dengan suporter dan gagal menang saat menghadapi tim-tim kuat semacam Sevilla, Valencia, dan Barcelona.

Zidane, salah satu pengolah bola terbaik yang pernah ada, diminta mereparasi skuat Madrid yang awut-awutan. Detail kontraknya tak diungkap ke publik. Oleh Presiden Madrid Florentino Perez, dia diberi tanggung jawab untuk mendatangkan trofi ke Stadion Bernabeu. Banyak yang berspekulasi Zidane hanya direkrut untuk sementara waktu hingga musim 2015/2016 berakhir. Apalagi, curriculum vitae-nya tak mentereng. Pengalaman Zidane hanya di Real Madrid Castilla alias Madrid B, dengan prestasi yang tak membanggakan, dan menjadi asisten Carlo Ancelotti.

Kemudian, pada Mei tahun itu, Zidane mempersembahkan tital ke-11 Liga Champions untuk Los Blancos setelah mengalahkan Atletico Madrid lewat adu penalti di final. Semusim berselang, dia memimpin anak asuhnya membekuk Juventus 4-1 di partai puncak Liga Champions. Dua trofi itu sudah menjadikan Zidane sebagai pelatih pertama yang mampu mempertahankan gelar di era Liga Champions.

Tiga pekan lagi, dia berpeluang menciptakan sejarah menjadi pelatih yang mampu menorehkan hattrick juara beruntun sejak Miguel Munoz melakukannya, juga bersama Madrid, dari 1955-1956 sampai 1957-1958. Jika Madrid mampu mengungguli Liverpool di Kiev, 26 Mei nanti, Zidane bakal menjadi pelatih terhebat di Liga Champions, lebih jago daripada peramu-peramu taktik inovatif dan berpengaruh semodel Pep Guardiola, Jose Mourinho, maupun Carlo Ancelotti.

Bagaimana Zidane membentuk Madrid menjadi tim kuat di Liga Champions meski dia diremehkan?

Kalem

Di 20 menit terakhir semifinal kedua menghadapi Bayern pekan lalu, Madrid terus ditekan dan cuma sesekali menyerang balik. Zidane, seperti biasa, tetap anteng. Dia cuma berdiri mematung, jarang berteriak, dan hanya menunjuk secukupnya. Ketenangan itu sudah menjadi pembawaannya. Zidane punya riwayat buruk soal mengendalikan emosi kala masih menjadi pemain dengan koleksi 14 kartu merah sepanjang karier. Di laga terakhirnya, Zidane diusir karena menanduk dada Marco Materazzi. Namun, wajah Zizou sebagai pelatih sangat berbeda.

“Selama pertandingan, sebenarnya saya menderita. Seperti semua orang lain, dalam batin saya sebenarnya ada gunung berapi yang siap meletup yang tak mudah untuk saya kendalikan,” ujar Zidane kepada Majalah Four Four Two terbitan Oktober 2015.

Guy Lacombe, pelatih AS Cannes ketika 30 tahun lalu Zidane mulai merintis karier sebagai pesepak bola profesional mengatakan watak Zidane ketika bermain bola sangat berbeda dengan kesehariannya. Di lapangan, Zidane menyunggi semacam beban identitas sebagai imigran Aljazair yang tumbuh di Marseille yang multikultur.

“Yazid belajar menendang bola di jalanan kota. Di tempat itu, rivalitas lokal sangat mencolok dan menentukan eksistensi. Siapa pun menjadi bagian dari representasi sebuah kota. Jika Anda tak menunjukkan diri sebagai bos, Anda tak bakal dianggap,” kata Lacombe.

Pada musim 1988, Lacombe melarang Zidane bermain selama satu bulan gara-gara anak muda itu menjotos lawan yang melanggarnya.

Sisi gelap Zidane ikut lenyap begitu dia meninggalkan lapangan. Menurut Lacombe, perangai Zidane sebagai pelatih lebih dekat dengan karakternya dalam kehidupan. Tenang dan berwibawa. Keduanya sangat menentukan dalam menutupi kemiskinan inovasi yang menjadi kekurangan Zidane sebagai peracik strategi tim.

Guy Lacombe, memoles bakat Zidane di Cannes. (fifa.com)

Wibawa

Zidane menjadi pelatih Madrid karena Florentino Perez cemburu dengan tradisi di Barcelona. Ketika Barca mampu meneguhkan identitas klub bersama mantan pemainnya, Pep Guardiola, dan sukses besar, Perez tak mau kalah.

“Zidane adalah simbol Madridismo. Dia mewakili identitas Real Madrid,” kata Perez.

Zidane lahir di Prancis, mekar di Italia, dan melegenda di Spanyol. Rekaman golnya ke gawang Leverkusen di final Liga Champions 2001-2002 diputar berulang-ulang di layar Bernabeu, menjadi penanda kebesarannya. Pamor sebagai pemain jempolan yang menjadi fondasi Zidane memimpin Los Blancos.

John Carlin, penulis White Angels: Beckham, Real Madrid dan kolumnis di koran terkemuka Spanyol, El Pais, menilai tanpa reputasi sebagai pemain hebat, Zidane tak bakal menjadi pelatih Madrid atau pelatih klub mana pun di divisi teratas Liga Spanyol.

“Itu adalah salah satu keajaiban sepak bola. Fans menganggap pelatih layaknya pesihir yang bisa mengubah rongsokan menjadi emas. Padahal kita hanya bisa menilai seseorang berdasarkan hasil yang dia peroleh. Sebelum semuanya berakhir, kita tak bisa memperkirakan apa pun,” ujar dia.

Madrid dihuni sekumpulan pemain yang sadar dengan kebintangan mereka. Sergo Ramos pernah terang-terangan menentang taktik Mourinho karena menganggap orang Portugal itu jarang mengalami situasi rumit di lapangan (pada masa mudanya, Mourinho cuma penerjemah Louis van Gaal dan tak pernah memeras peluh dalam pertandingan besar).

Zidane tak dihambat problem menjengkelkan seperti itu. Dia punya segudang pengalaman dan segepok penghargaan untuk menjinakkan egosime bintang-bintang Los Galacticos sehingga pendapatnya didengar.

Gol Zidane ke gawang Leverkusen terus dikenang Real Madrid. (Daily Mail)

Pengaruh Italia

Zidane adalah tipe pelatih yang membentuk tim berdasarkan kemampuan individu pemain dan dia beruntung karena Madrid dihuni sekumpulan pesepak bola dengan teknik kelas satu. Ini beda Zidane dengan Guardiola atau Mourinho. Guardiola rela mendepak Joe Hart, Elequiem Mangala, Aleksandar Koralov, dan mencadangkan Yaya Toure serta tak menjadikan Sergio Aguero sebagai tumpuan utama demi gagasannya membentuk tim berbasis penguasaan bola yang berisi pemain-pemain yang jitu dalam mengoper. Mourinho selalu mencari pemain yang pandai bertahan di tim mana pun yang dia besut dan dia sangat dihormati oleh pemain-pemain defensif seperti Nemanja Matic, Dejan Stankovic, atau Walter Samuel.

Sementara, Zidane adalah pelatih yang sadar bahwa tim hebat akan lahir manakala pemain-pemain hebat bisa berkembang sesuai bakat mereka. Jika ingin sukses dengan gaya ini, seorang pelatih harus bisa menjadi pendengar yang baik agar memahami pemain, dan Zidane punya karakter demikian.

Masa-masa Los Galacticos (istilah Spanyol untuk kumpulan pemain dari galaksi lain) di Madrid pada awal dekade 2000 sempat menimbulkan turbulensi. Media-media Negeri Matador menyebut ruang ganti Bernabeu retak, terdapat dua kubu di dalamnya: Zidanes yang mewakili pemain-pemain berharga mahal dan Pavones yang merepresentasikan pemain didikan Akademi Madrid.

Francisco Pavon, yang dari namanya julukan Pavones muncul, belakangan malah mengungkapkan pekerti Zidane yang sangat menghargai koleganya.

“Semasa menjadi pemain, hubungannya dengan rekan setim sangat baik,” ujar dia.

Itu berkebalikan dengan persepsi banyak orang yang sudah kadung terjebak dalam stigma Zidanes versus Pavones.

“Saya yakin caranya membangun relasi sangat membantu Zidane sebagai pelatih.”

Falsafah kepelatihan Zidane dipengaruhi jejaknya bermain untuk Juventus dan pelatihnya kala itu, Carlo Ancelotti. Pada masa awal karier manajerialnya di Parma, Ancelotti percaya 4-4-2 yang diisi pemain-pemain disiplin yang tak suka pamer kemampuan mengolah bola adalah resep terbaik memenangi pertandingan.

Persepsinya berubah ketika dia menangani Juventus dan berjumpa Zidane. Ancelotti mulai menghargai bakat unik setiap pemain setelah melihat kepiawaian Zidane mengontrol bola dan mengendalikan serangan. Dengan pandangan demikian, Ancelotti melambungkan Andrea Pirlo dan Kaka saat melatih Milan.

Rotasi Mulus

Ibarat pepatah tak ada yang baru di kolong langit, Zidane tinggal menapaktilasi karakter kepelatihan Ancelotti. Kemampuan Zidane dalam mendatangkan bakat-bakat anyar belum teruji. Selama dua musim melatih Madrid, pria 45 tahun ini tidak membeli talenta mentah yang kemudian menjadi bintang. Pembelian termahal di era Zidane adalah Dani Ceballos dengan banderol 18 juta euro.

Namun, Zidane beruntung karena mewarisi skuat berkualitas tinggi yang ditinggalkan Mourinho, Ancelotti, dan Rafa Benitez dan memperlakukannya dengan tepat.

Berkat wibawa dan penghargaannya yang tinggi kepada setiap pemain, Zidane tak kesulitan merotasi tim. Cristiano Ronaldo kerap disimpan kala menghadapi klub-klub gurem seperti Las Palmas, Eibar, Girona, dan Leganes di La Liga sehingga fisiknya benar-benar bugar di laga penting Liga Champions. Cara ini ditempuh Zidane sejak musim lalu dan terbukti mangkus.

“Saya memainkan tujuh atau delapan pertandingan lebih sedikit sekarang dan di pertandingan menentukan, saya bisa bermain lebih baik,” ucap Ronaldo.

Madrid boleh saja hancur-hancuran di La Liga. Namun, di arena Liga Champions, kekuatan terbaik klub tersebut muncul.

Zidane juga paham apa yang membuat tim bekerja lebih baik, yakni pusat permainan. Saat menjadi pemain, dia pernah berkeluh kesah ketika pada musim 2003 Claude Makelele dijual ke Chelsea dan sebagai gantinya Madrid mendatangkan superstar David Beckham. Menurut dia, “Apa gunanya memoles Bentley dengan tambahan lapisan emas jika Anda kehilangan seluruh mesin yang membuatnya bisa berjalan.”

Makelele adalah gelandang yang sangat simpel memainkan sepak bola, barangkali pemain paling simpel yang pernah ada dalam sejarah perkembangan sepak bola. Dia hanya menekel, merebut bola, dan mengopernya kepada pemain yang paling dekat dengannya. Dengan cara itulah dia menjamin Zidane atau Luis Figo bisa leluasa bermain di sepertiga akhir lapangan. Dengan cara itu pula dia menciptakan istilah Makelele Role.

Zidane menemukan peran tersebut dalam diri Casemiro. Gelandang Brasil itu mengemban permainan serupa Makelele, meski tak simpel-simpel amat. Tugas utamanya menekel dan merebut bola untuk diberikan kepada Toni Kroos dan Luka Modric. Selanjutnya, Kroos, Modric, atau siapa saja yang menjadi gelandang serang tinggal mengoper ke Marcelo dan Dani Carvajal untuk kemudian meneruskannya ke Ronaldo dan gol bakal tercipta (asal Ronaldo ada dalam level terbaik).

Claude Makelele (kiri) memberi kenyamanan bagi Zidane dan Ronaldo de Lima dalam menyusun serangan. (uefa.com)

Tergantung Pemain

Ketenangan, kemampuan memahami anak buah, dan karisma sebagai pemain besar menjadi modal utama Zidane. Dia tak aneh-aneh dalam meracik strategi. Keberaniannya paling banter adalah menempatkan penyerang Lucas Vazquez sebagai bek kanan seperti di laga semifinal kedua Liga Champions menghadapi Munchen pekan lalu.

Zidane tak punya pakem baku. Jika memungkinkan, Zidane akan menerapkan 4-3-3. Jika tidak, dia tak keberatan memakai 4-4-1-1 atau 4-4-2. Kendali serangan akan dia serahkan tergantung siapa yang bugar dan siap, bisa Isco, Marco Asensio, Luka Modric, atau Toni Kroos. Persis seperti karakter pelatih Italia.

“Anda mungkin memiliki pemain yang bagus sehingga memiliki banyak solusi untuk setiap masalah yang muncul di lapangan. Tetapi mengelola klub seperti Madrid, tak ubahnya melakukan bedah mikro. Itu sangat sulit. Melatih Real Madrid lebih sulit daripada klub lainnya. Zidane tahu Madrid lebih baik dari siapa pun. Dia memiliki hubungan yang harmonis dengan presiden, para pemain, dan para penggemar,” kata Lacombe beberapa waktu lalu.

Zidane tinggal sejengkal lagi menatah namanya di buku sejarah Madrid dan sepak bola Eropa. Rintangannya adalah Jurgen Klopp dan Liverpool. Jika berhasil, kariernya di Madrid mungkin bakal lama. Jika gagal, bisa jadi dia juga akan gagal di klub lain mengingat gaya kepelatihannya yang sangat bergantung pada pemain-pemain hebat.

“Jika Anda bertanya kepada saya apakah Zidane akan sukses ketika misalnya menangani Tottenham Hostpur atau Chelsea atau Manchester United, saya pikir dia akan gagal. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi ke depan,” kata John Carlin.

Sumber : Four Four Two, Guardian, Telegraph, fifa.com, uefa.com, Bleacher Report

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia